Setelah berhasil menaklukkan Sultan Yazid Khan dan pasukannya, kelaliman
Timurleng semakin merajalela. Setiap kali singgah disuatu kota,dia dan anak buahnya
pasti akan membikin keonaran. Mereka merampas harta benda penduduk dengan
sesukanya,bahkan tidak segan-segan membunuh siapa saja yang berani melawan mereka.
Beruntung sekali Nasrudin mempunyai hubungan yang biak dengan sang tiran,
sehingga kotanya selamat dari kejahatan dan pengrusakan.
Pernah suatu hari, nasrudin bermaksud menghadiahi Timurleng tiga butir buah
semangka yang tampak segar. Setelah meletakkannya di atas nampan, nasrudin lalu
membawanya kekediaman Timurleng. Di tengah jalan, tiga butir buah semangka tersebut
selalu bergerak-gerak di atas nampan.
“Hai, tenanglah di tempatmu, Kalau tidak akan ku makan kamu,” kata nasrudin
kesal.
Tetapi setiap kali Nasrudin melangkah, buah semangka itu selalu bergerak-gerak,
karena tidak sabar, nasrudin akhirnya memakan yang dua butir. Dengan demikian, hanya
tinggal sebutir yang akan dia berikan kepada Timurleng, ditambah dengan sekeranjang
tebu.
Di tengah perjalanan nasrudin bertemu dengan temannya, yang kemudian
menyarankan supaya mengganti tebu dengan buah tin.
Menurut temannya, buah tin lebih pantas diberikan kepada Timurleng daripada
tebu.
Setelah dipikir-pikir, akhirnya nasrudin menyetujui saran temannya tersebut dan
menggantinya dengan buah tin.
Celaka, ternyata si tiran tidak suka hadiah yang diberikan Nasrudin. Dia bahkan
merasa merasa terhina oleh hadiah tersebut, maka dia perintahkan pengawalnya untuk
menghantamkan buah tin tersebut kepada kepala dan wajah Nasrudin.
Sambil menahan rasa sakit, Nasrudin mencoba berkata dengan suara lirih : “Syukur
alhamdulillah”
Rupanya Timurleng mendengarnya, dia tersentak kaget
“Hai! Dalam keadaan demikian mengapa kamu malah bersyukur ?” tanya
Timurleng
“Benar, baginda”, jawab Nasrudin, “Ketika berangkat dari rumah, aku membawa
hadiah untuk baginda sekeranjang tebu dan tiga butir semangka matang, yang kemudian
hanya tinggal satu butir, kemudian di tengah jalan, aku bertemu temanku dan
menyarankan mengganti buah semangka tersebut dengan buah tin,beruntung aku mau
menuruti sarannya, coba kalau tidak kepalaku akan memar, mataku akan buta, dan
hidungku akan pecah dihantam batang-batang tebu. Jadi sudah seharusnya aku bersyukur
pada Allah atas pertolonganNya yang aneh ini.”
Timurleng semakin merajalela. Setiap kali singgah disuatu kota,dia dan anak buahnya
pasti akan membikin keonaran. Mereka merampas harta benda penduduk dengan
sesukanya,bahkan tidak segan-segan membunuh siapa saja yang berani melawan mereka.
Beruntung sekali Nasrudin mempunyai hubungan yang biak dengan sang tiran,
sehingga kotanya selamat dari kejahatan dan pengrusakan.
Pernah suatu hari, nasrudin bermaksud menghadiahi Timurleng tiga butir buah
semangka yang tampak segar. Setelah meletakkannya di atas nampan, nasrudin lalu
membawanya kekediaman Timurleng. Di tengah jalan, tiga butir buah semangka tersebut
selalu bergerak-gerak di atas nampan.
“Hai, tenanglah di tempatmu, Kalau tidak akan ku makan kamu,” kata nasrudin
kesal.
Tetapi setiap kali Nasrudin melangkah, buah semangka itu selalu bergerak-gerak,
karena tidak sabar, nasrudin akhirnya memakan yang dua butir. Dengan demikian, hanya
tinggal sebutir yang akan dia berikan kepada Timurleng, ditambah dengan sekeranjang
tebu.
Di tengah perjalanan nasrudin bertemu dengan temannya, yang kemudian
menyarankan supaya mengganti tebu dengan buah tin.
Menurut temannya, buah tin lebih pantas diberikan kepada Timurleng daripada
tebu.
Setelah dipikir-pikir, akhirnya nasrudin menyetujui saran temannya tersebut dan
menggantinya dengan buah tin.
Celaka, ternyata si tiran tidak suka hadiah yang diberikan Nasrudin. Dia bahkan
merasa merasa terhina oleh hadiah tersebut, maka dia perintahkan pengawalnya untuk
menghantamkan buah tin tersebut kepada kepala dan wajah Nasrudin.
Sambil menahan rasa sakit, Nasrudin mencoba berkata dengan suara lirih : “Syukur
alhamdulillah”
Rupanya Timurleng mendengarnya, dia tersentak kaget
“Hai! Dalam keadaan demikian mengapa kamu malah bersyukur ?” tanya
Timurleng
“Benar, baginda”, jawab Nasrudin, “Ketika berangkat dari rumah, aku membawa
hadiah untuk baginda sekeranjang tebu dan tiga butir semangka matang, yang kemudian
hanya tinggal satu butir, kemudian di tengah jalan, aku bertemu temanku dan
menyarankan mengganti buah semangka tersebut dengan buah tin,beruntung aku mau
menuruti sarannya, coba kalau tidak kepalaku akan memar, mataku akan buta, dan
hidungku akan pecah dihantam batang-batang tebu. Jadi sudah seharusnya aku bersyukur
pada Allah atas pertolonganNya yang aneh ini.”




















0 comments
KOMENTAR ANDA SANGAT PENTING UNTUK MEMBANGUN BLOG INI MENJADI LEBIH BAIK LAGI, TERIMA KASIH UNTUK TIDAK SPAMMING!
YOUR COMMENT IS VERY IMPORTANT TO BUILD THIS BLOG BETTER, THANKS FOR NOT SPAMMING!